Selasa, 14 Oktober 2014

Simfoni Alam


Sistem Irigasi Subak di Bali


Subak merupakan sekumpulan petani yang mengelola sistem irigasi yang ada di sebuah kawasan persawahan tertentu dan dibatasi oleh sungai, jurang, dan batas fisik lainnya yang tentunya terlihat jelas. Lalu apa bedanya sistem irigasi subak dengan sistem irigasi persawahan pada umumnya?. Sistem irigasi subak memiliki komponen- komponen pembeda dimana di dalamnya sangat khas akan kearifan lokal bali. Sumber air subak, yang merupakan komponen fundamental, biasanya berasal dari mata air yang mengalir ke sebuah sungai yang dikelola sedemikian rupa oleh para petani subak dengan sistem “meminjam air” , yang secara konkret merupakan sistem yang penekanannnya lebih kearah gotong- royong dan saling bahu membahu, bukan sistem utang piutang. Dalam subak, juga harus memiliki 1 bangunan bagi serta pura yang terpasang di pematang masing- masing sawah. Pura ini merupakan syarat utama subak. Sistem irigasi subak dipimpin oleh seorang pekaseh yang mana merupakan seorang pengatur dari sistem irigasi ini. Pekaseh atau klean subak merupakan birokrat yang otonom. Namun demikian, pekaseh masih melakukan koordinasi dan konsolidasi dengan kepala desa, dimana kepala desa tidak memiliki wewenang untuk mengatur kinerja pekaseh. Contoh konkretnya, ketika warga desa meninggal di saat musim panen, maka upacara ngaben yang seharusnya dilakukan harus diundur demi kelancaran proses memanen. Dalam sistem ini, air sangat mudah didapat bahkan tak akan habis, sehingga kekeringan pun jarang terjadi. Ketika memang air yang mengalir ke dalam sawah seorang petani kurang, maka system “pinjam air” pun berlaku di sini.

Dalam sistem ini, terdapat empat jenis sumber air dalam bentuk danau. Bahkan selain danau, hutan pun merupakan sumber air bagi subak bali. Subak sendiri memiliki prinsip untuk tidak mengutamakan effisiensi, melainkan effektivitas , dimana hal ini justru menjadikan subak sebagai bemper kebudayaan bali. Meskipun sistem irigasi subak terdiri atas sawah- sawah yang sempit- sempit, subak memiliki beberapa landasan berupa Tri Hita Karana, atau tiga hal yang menyebabkan kebahagiaan, yang terdiri atas harmoni dengan alam, meliputi sawah yang sesuai dengan kontur, kemudian harmoni dengan sesame yang meliputi sistem “pinjam air”, rapat dan atau konsolidasi. Selain itu , ada pula harmoni kepada tuhan, dimana disimbolkan dalam sesajen yang dipersembahkan di pematang. Sistem irigasi ini sangat berlandaskan sosio- kultural masyarakat, sehingga terdapat beberapa kelebihan dan kekurangan. Kelebhannya antara lain bersifat fleksibel, bersifat good governance, mampu beradaptasi dengan teknologi baru dan dinamika budaya yang ada. Kelemahannya terletak pada tidak kuatnya sistem pertahanan dalam menahan intervensi dari pihak luar. Namun demikian, system subak ini sangatlah unik. "One inlet & one outlet system" begitulah bunyi sistem tersebut yang diutarakan oleh ahli irigasi, dimana 1 petani memiliki 1 gate dan 1 pure. Untuk konsolidasinya sendiri, sistem ini sangat menganjurkan petani untuk selalu melakukan perundingan setiap akan menanam, bahkan saat hendak membunuh hama dan tikus. Gabungan antara subak–subak yang terikat dalam satu sistem disebut subak agung. Secara konkret, memang jelas bahwa sistem irigasi semacam ini sangat kurang efisien. Namun demikian, subak sendiri merupakan sebuah cerminan kearifan lokal yang berhasil dilestarikan sehingga berhasil pula dalam mengangkat derajat bangsa.

Wisata Subak
Belakangan, wisata Subak di Bali makin marak. mulai dari sekedar tracking hingga bersepeda di pagi hari. Jatiluwih, Tabanan merupakan destinasi wisata Subak yang populer, disamping Tegalalang, Ubud. Letaknya diantara Ubud dan Kintamani. Hamparan sawah yang berundak indah sangat terkenal ditambah lagi dengan udaranya yang segar dan sejuk. letaknya di daerah pegunungan Batukaru. setiap harinya, rata-rata 100 turis asing mengunjungi area seluas 600 an hektar ini.

Sumber:
http://permateta.tp.ugm.ac.id/2014/03/sistem-irigasi-subak-di-bali/
http://iendro.blogspot.com/2012/11/subak-sistem-pengairan-sawah-bali.html



9 komentar:

  1. Setuju, mungkin kalo sistem irigasinya diterapkan di daerah-daerah Indonesia komoditas panen makin meningkat per tahunnya sehingga berbanding lurus dengan pendapatn para petani yang semakin meningkat pula..

    BalasHapus
  2. bener chen, tugas kita sebagai anak pertanian untuk memajukan pertanian indonesia

    BalasHapus
  3. omoshiroi, inspirasi informasi yang harus lebih di kembangkan di negeri ini

    BalasHapus
  4. gomawo, tugas kita sebagai generasi penerus untuk mengembangkan dan memajukan potensi di indonesia

    BalasHapus