Jokowi Targetkan Swasembada Beras, Gula dan jagung
dalam 4 Tahun
Swasembada dapat diartikan sebagai kemampuan untuk memenuhi segala kebutuhan. pangan adalah bahan-bahan makanan yang didalamnya terdapat hasil pertanian, perkebunan, dan lain-lain. jadi swasembada pangan adalah kemampuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan bahan makanan sendiri tanpa perlu mendatangkan dari pihak luar. Tantangan dan permasalahan mendasar pembangunan sektor
pertanian berkaitan dengan sarana prasarana, permodalan, pasar, teknologi, dan
kelembagaan petani, yang masih memerlukan penanganan yang berkelanjutan
disamping munculnya persoalan-persoalan baru. Walaupun dihadapkan pada
berbagai permasalahan dan hambatan, sektor pertanian telah mampu menunjukkan
keberhasilan dan perkembangan yang menggembirakan.
Khusus untuk masalah lahan pertanian, rendahnya
perluasan sawah irigasi di Indonesia antara lain disebabkan oleh derasnya
konversi lahan sawah beririgasi sejak lebih dari dua dasawarsa terakhir
khususnya di pulau Jawa. Antara tahun 1978 – 1998, misalnya konversi lahan
sawah irigasi adalah sebesar satu juta ha. Padahal kenyataannya sawah
irigasi masih tetap merupakan sumberdaya lahan yang terpenting dalam mendukung
produksi padi. Bila terjadi
penurunan luas sawah irigasi yang tidak terkendali maka akan mengakibatkan
turunnya kapasitas lahan sawah untuk memproduksi padi. Yang menyebabkan terjadinya alih fungsi lahan sawah tersebut ke penggunaan lain (pertanian lahan
kering ataupun ke peruntukan non pertanian).
Presiden Joko Widodo akan mengusahakan swasembada untuk tiga bahan makanan pokok di Indonesia. Tiga bahan makanan pokok itu adalah beras, gula, dan jagung. hal tersebut diungkapkan oleh Presiden ke 7 indonesia yang baru dilantik tersebut pada Senin 20 oktober 2014. beliau juga mengungkapkan bahwa hal tersebut bisa tercapai dengan kerja keras semua pihak dari petani ataupun pemerintah.
Pengamat pertanian Khudori mengatakan, jika mengacu pada data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) maka Indonesia telah berswasembada beras. Hal ini tercermin dari kemampuan produksi domestik yang dapat memenuhi lebih dari 90 persen kebutuhan nasional.
Akan tetapi tidak demikian pada komoditas jagung. Selama ini mempublikasikan bahwa produksi jagung nasional mencapai 18 juta ton per tahun. Tetapi kenyataannya para produsen pakan ternak mengaku masih kesulitan memperoleh jagung.
Untuk komoditas gula pasir, pengamat dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia menuturkan produksi Indonesia masih jauh untuk mampu memenuhi kebutuhan nasional. Apalagi, kebutuhan gula industri sepenuhnya masih ditopang oleh produk impor.
Ia menyarankan agar pemerintah membenahi data komoditas-komoditas pangan yang strategis. Sehingga dapat diketahui seberapa mampu produksi mencukupi permintaan nasional.
Langkah Presiden Jokowi untuk menjadikan Indonesia berswasembada pangan dinilai realistis oleh pengamat. Akan tetapi sebelum melangkah ke arah yang lebih jauh, Jokowi terlebih dahulu harus membenahi data produksi pangan yang selama ini dinilai tidak akurat.
Akibatnya Indonesia harus mengimpor sedikitnya tiga juta ton jagung per tahun. Padahal jika ditilik lebih jauh kebutuhan jagung untuk pakan hanya sebesar delapan juta ton per tahun.
Sumber:
http://forum.detik.com/keberhasilan-semu-sby-di-sektor-pertanian-perspektif-pertanian-indonesia-t104426.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar